Minggu, 14 Oktober 2012

SUKU ASMAT




Suku di Indonesia sangat beraneka ragam dari sabang hingga merauke, karena Indonesia memiliki slogan yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Saya disini akan menceritakan secara detail tentang salah satu suku yang ada di Indonesia yaitu Suku Asmat. Karena dibalik cerita suku Asmat terdapat keunikan dari suku tersebut.  

Suku Asmat merupakan salah satu suku yang terdapat di Papua, dan suku tersebut terkenal di dunia, karena apa yang pernah dipraktekkan dimasa lalu yaitu sebagai suku yang suka memenggal kepala musuh dan juga karena keunikan ide mereka serta keindahan desain yang mereka miliki dalam ukiran kayu.

Sejarah terbentuknya suku Asmat yaitu pada tahun 1904 nama Asmat telah dikenal didunia. Tercatat pada tahun 1770 sebuah kapal yang dinahkodai James Cook mendarat di sebuh teluk di daerah Asmat. Tiba-tiba muncul puluhan perahu lesung panjang didayungi ratusan laki-laki berkulit gelap dengan wajah dan tubuh yang diolesi warna-warna merah, hitam, dan putih.

Mereka ini menyerang dan berhasil melukai serta membunuh beberapa anak buah James Cook. Berabad-abad kemudian pada tepatnya tanggal 10 Oktober 1904, Kapal SS Flamingo mendarat di suatu teluk di pesisir  barat daya Irian jaya. Terulang peristiwa yang dialami oleh James Cook dan anak buahnya pada saat dahulu.

Mereka didatangi oleh ratusan pendayung perahu lesung panjang berkulit gelap tersebut. Namun, kali ini tidak terjadikontak berdarah. Sebaliknya terjadi komunikasi yang menyenangkan di antara kedua pihak. Dengan menggunakan bahasa isyarat, mereka berhasil melakukan pertukaran barang. Kejadian ini yang membuka jalan adanya penyelidikan selanjutnya di daerah Asmat. Sejak itu, orang mulai berdatangan ke daerah yang kemudian dikenal dengan daerah Asmat itu.

Secara geografis suku Asmat berada di dataran coklat lembek yang tertutup oleh jarring laba-laba sungai. Dibagian utara terdapat kaki pegunungan Jayawijaya atau kabupaten Puncak Jaya dan Nduga Jaya, bagian timur terdapat kabupaten Mappi dan Merauke, dan bagian selatan terdapat Lautan Arafura, serta bagian barat terdapat Kabupaten Mimika.

Masyarakat suku Asmat tinggal didaerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, tetapi suku Asmat juga ada yang tinggal didaerah pedalaman dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu), dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya.

Secara umum kondisi fisik masyarakat suku Asmat berdominan berkulit hitam dengan hidung macung dan berambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu suku Asmat termasuk kedalam suku Polonesia.

Agama yang dianut oleh suku Asmat yaitu Katholik dan Protestan, serta Animisme yakni suatu ajaran dan praktek keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang mati atau patung. Didalam ritual suku asmat menggunakan ulat sagu yang mereka anggap ulat sagu tersebut merupakan bagian yang penting yang harus dilakukan.

Makanan pokok suku Asmat yaitu sagu. Karena hampir semua masyarakat suku Asmat makan sagu yang terbuat dari bulat-bulatan dan dibakar dalam api. Masyarakat Asmat memiliki keunikan karena mereka mempunyai kegemaran yaitu memakan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu. Biasanya cara memakan ulat sagu tersebut dengan dibungkus daun nipah, ditaburi sagu, dan dibakar dalam bara api, serta dilengkapi oleh sayuran dan ikan.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Asmat termasuk dalam keluarga bahasa Papua yang disebut Asmat-Kamoro. Bahasa lisan Asmat didokumentasikan dalam bentuk bahasa tulisan oleh para misionaris

Suku Asmat sangat terkenal dengan penghasil ukiran kayunya, karena sumber daya alam yang terdapat disekitar daerah suku Asmat yaitu kayu, rotan, gaharu, kemiri, kulit masohi, kulit lawang, damar dan kemenyan yang sangat berlimpah ruah. Selain itu terdapat juga ikan, cucut, kepiting, udang, teripang, dan cumi-cumi, dan hewan lainnya.

Tempat tinggal masyarakat suku Asmat dibangun minimal dua meter di atas tanah, menggunakan tiang-tiang kayu. Di beberapa daerah pedalaman, masyarakat Asmat bahkan tinggal di rumah pohon, kadang-kadang setinggi 25 meter dari tanah.

Selain memiliki keunikan yaitu memakan ulat sagu, masyarakat suku Asmat memiliki banyak kebiasaan yang aneh dan mengerikan yaitu saat mereka membunuh musuhnya. Mereka masih menggunakan cara-cara zaman prasejarah. Setelah dibunuh, mayat musuh tersebut dibawa pulang ke kampung. Di kampung, mayat tersebut dipotong-potong, lalu dibagi-bagi ke seluruh penduduk. 

Para penduduk itu berkumpul dan memakan potongan mayat bersama-sama. Ketika memakan mayat itu bersama-sama, para penduduk menyanyikan lagu yang mereka sebut dengan lagu kematian. Tak cukup sampai di sana, mereka pun memenggal kepala si mayat. Otak mayat itu diambil, kemudian dibungkus dengan daun sagu. Setelah itu, otak tersebut dipanggang untuk dimakan bersama-sama. Betapa mengerikannya kalau dilihat langsung prosesnya.

Dibalik keunikan, kebiasaan aneh dan mengerikan dari masyarakat suku Asmat. Mereka sangat pandai membuat ukiran kayu tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Ukiran-ukiran yang mereka buat tersebut memiliki makna tersendiri yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang. Bagi suku Asmat, mengukir merupakan bukan pekerjaan biasa tetapi mengukir adalah jalan bagi mereka untuk berhubungan dengan para leluhur.

Masyarakat suku Asmat meyakini bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam. Dalam keyakinan masyarakat Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan, yang kemudian turun ke hilir hingga tiba di tempat yang kini didiami oleh masyarakat Asmat hilir.

Referensi :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar